Wong “Ndeso” Rasa “Kutho”

oleh
wong ndeso gadis desa
sumber : pixabay

Saya ingin menulis perasaan saya ketika menganggap diri sendiri sebagai orang “ndeso”. Saya orang ndeso atau kalau biasanya orang Jawa bilang “wong ndeso”. Tapi walau begitu, jangan salah saya anggap diri saya wong ndeso rasa kutho. Kok bisa ? Bisalah, terserah saya mau bilang apa. Bagi saya, arti wong ndeso rasa kutho itu karena saya pernah ke kota. Kota mana ? Ya, kota. Tempat yang lebih ramai dari tempat tinggal saya, saya anggap kota. Gitu aja.

Kecamatan di tempat saya pun saya anggap kota. Karena ramai, banyak toko, banyak mobil bersliweran. Ada pasar besar nya. Orang pun berlalu lalang kesana kemari. Asal ramai gitu aja, saya anggap kota. Selain itu, saya pun sekolah di kota. Saat SMA dulu, sekolahnya di dekat Kantor Kabupaten. Lebih ramai lagi daripada kecamatan. Saat kuliah, saya ke Bandung. Nah, lebih kota lagi. Saya pun bertemu dengan banyak teman dari seluruh penjuru negeri ini, dari sabang sampai merauke bahkan dari daerah yang saat ini menjadi negara sendiri, Timor – Timur.

Saya tau tekhnologi, bisa menggunakan radio, televisi, handphone bahkan bisa internetan. Itu semua bisa jadi sumber referensi ilmu otak saya. Saya bisa jadi pinter, tapi gak merasa keminter. Gak perlu ngotot saat diskusi, jika belum tau ya cari tau dari lawan bicara. Intinya, sharing apapun yang kiranya bisa menambah ilmu pengetahuan.

Saya orang ndeso, tapi yang saya rasakan, saya tidak kalah sama orang kota. Toh, awalnya semua daerah juga ndeso. Lalu berkembang dan terus berkembang menjadi ramai akhirnya disebut kota. Orang tua saya, mungkin juga orang tua anda awalnya pasti juga orang ndeso.

Apa salahnya dengan orang ndeso ? Jika ada yang bilang “kamu ndeso”, ya memang benar saya orang ndeso. Dan bagi saya ngapain harus tersinggung, ngapain harus marah, ngapain harus melaporkan orang yang bilang ke saya kalau saya orang ndeso. Biasa wae.

Ndeso jika dikatakan untuk mengumpat, saya anggap biasa saja. Toh, orang – orang yang saat ini berada di ndeso pun gak sebegitunya marah. Apalagi sampai tidak terima. Apakah jika ada info terkait dengan ucapan “ndeso” juga sampai ke mereka? Wong ndeso itu lugu, ya seperti saya. hehe…

Wong ndeso itu sederhana, seperti saya juga. Wong ndeso itu goblok, hmm..kalau gak belajar bukan orang ndeso saja yang akan goblok. Orang kota pun bisa goblok juga. Ya kan?

Hidup di desa itu guyubnya masih bagus. Ada tetangga hajatan ramai – ramai kita bantu, kita hadir dan ikut berbahagia. Jika ada tetangga sedang tertimpa musibah, kita datang mengabarkan dan memberi semangat.

Wong ndeso tidak terlalu komersil atau aneh – aneh. Ini mungkin bisa jadi karena yang mau dipakai untuk komersil – komersilan tidak ada, apalagi mau aneh – aneh. Kalau punya uang pun wong ndeso ya biasa saja. Bisa buat makan, alhamdulillah. Bisa beli baju bagus, kadang setahun sekali pas lebaran. Seperti saya juga ( dulu ).

wong ndeso
sumber : umdois

Kata – kata “ndeso” kadang saya anggap itu hanya guyonan saja. Atau sebuah pemahaman bahwa dengan kata itu ingin menunjukkan kalau ndeso itu harusnya gak aneh – aneh atau nganeh anehi. Biasa saja.

Lha mbok zaman sekarang yang dibilang era modern, kata ndeso barangkali lebih tajam maknanya. Sudah modern kok masih ndeso. Begitu kental dan kuat jika dimaknai ditengah modernitas. Intinya, bagi saya kata ndeso itu bisa jadi sebuah kata untuk mengingatkan. Kembali kepada kesederhanaan, tak usah aneh – aneh, atau lebih kepada rasa kepasrahan diri terhadap-Nya.

Ndak perlu emosi, biasa saja. Wong ndeso sejati tak akan menganggap bahasa umpatan ndeso sebagai suatu masalah yang harus dibesar – besarkan. Kalau saya di anggap ndeso, artinya saya menganggap mereka memperhatikan saya. Ya, awal keakraban lah sederhananya gitu.

Kan lebih keren misal ada yang menganggap kita “ndeso” tapi ternyata kita lebih mampu lebih cerdas lebih punya pengendalian diri dari pada yang mengatakan itu. Lebih familier dengan tekhnologi dan cara menyikapinya, gak asal emosi dan mampu membawa diri sebaik mungkin. Wong ndeso rasa kutho…mau protes? Aku rapopo..hehe, nyet ndeso…biasa wae..

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *