Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Riwayatmu Dulu

oleh
warga transmigran bedol desa waduk gajah mungkur

Manakala kita punya rumah yang indah, dan kita berkumpul bercerengkama senda gurau bahagia dalam ruang teduh rumah itu. Berbagai kisah dan kenangan akan selalu ada selama hidup kita. Dan ketika, rumah itu harus kita tinggalkan demi kepentingan bangsa dan negara. Keihklasan, rasa nasionalisme tinggi serta jiwa kenegarawanan seorang warga negara yang cinta bangsa ini akan diuji.

Demikian halnya, ketika warga Kabupaten Wonogiri kala itu meninggalkan tanah tumpah darahnya pergi dari Wonogiri untuk sebuah proyek pembangunan Waduk yang akan bermanfaat bagi orang banyak. Bukan saja untuk masyarakat di Wonogiri, akan tetapi daerah sekitar menikmati manfaat keberadaan Waduk sebagai Pembangkit Listrik. Inilah kisah yang patut kita renungkan sejenak, bagaimana pengorbanan warga Wonogiri dengan jiwa nasionalisme serta keikhlasan berbondong – bondong pergi dari tanah kelahiran demi kepentingan bangsa ini untuk masyarakat secara luas.

Dimulai dengan berangkatnya warga dari 3 kecamatan terlebih dahulu. Yaitu dari Kecamatan Wonogiri, Nguntoronadi dan Wuryantoro. Pemberangkatan tahun 1976 – 1977 sebanyak 693 KK ( 3105 Jiwa ) warga Kecamatan Wonogiri, 892 KK ( 4026 Jiwa ) warga Kecamatan Nguntoronadi, dan 415 KK ( 1634 Jiwa ) warga Kecamatan Wuryantoro.

Pemberangkatan Transmigran Februari 1976 wonogiri
Pemberangkatan Transmigran Februari 1976

Selanjutnya warga Kecamatan Wonogiri, Nguntoronadi, Wuryantoro, Baturetno, Eromoko dan Giriwoyo. Total jumlah warga yang ditransmigrasikan selanjutnya dari 6 kecamatan tersebut yaitu tahun 1977 – 1978, sebanyak 3859 KK ( 15.832 jiwa ). Tahun 1978 – 1979 sebanyak 1800 KK ( 7123 jiwa ). Pada tahun 1979 – 1980 pemberangkatan kembali warga dari 6 Kecamatan tersebut 2480 KK ( 9595 Jiwa ).

Sehingga total transmigrasi bedol desa tahun 1980 kala itu adalah sejumlah 10.139 KK ( 41.365 Jiwa ) ke Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu.

Pembangunan Waduk Gajah Mungkur dapat dikatakan tidak menemui kendala yang berarti. Lancarnya pembangunan ini tidak dapat dilepaskan dari peran rezim yang berkuasa pada masa tersebut, yaitu rezim Soeharto.

warga transmigran bedol desa waduk gajah mungkur
Warga Wonogiri Sesampainya Di Lokasi Transmigrasi Februari 1976

Pada masa tersebut, tokoh Soeharto merupakan sosok yang dianggap sakral karena masyarakat Wonogiri menganggap Soeharto berasal dari Daerah Wonogiri. Hal ini dikarenakan Soeharto pernah bersekolah di daerah Wuryantoro.

Alasan lain yang membuat proyek ini lancar adalah karena lancarnya penerimaan ganti rugi dan juga ganti rugi ini diberikan langsung kepada penerimanya tanpa perantara siapapun.

Selain itu, Soemoharmoyo, Bupati Wonogiri kala itu adalah seorang pemimpin bijak. Bupati dengan pola pendekatan langsung serta proses yang cukup panjang berhasil meyakinkan warganya untuk transmigrasi dalam upaya pembangunan Waduk Gajah Mungkur itu.

Walau demikian, ada sebagian  kecil pihak yang tidak setuju dengan adanya transmigrasi untuk keperluan pembangunan waduk ini. Salah satu tokoh masyarakat yang terang-terangan menolak program transmigrasi tersebut adalah Bapak Sutrisno selaku kepala desa dari Nguntoronadi yang diikuti oleh sepuluh orang. Alasan bapak Sutrisno menolak adalah karena ganti rugi yang diterima tidak seimbang dengan apa yang akan ditinggalkan di sana.

Tahun 1976, rombongan pertama berangkat ke Sitiung, Sumatera Barat. Sejumlah 2000 KK atau 8615 jiwa. Sitiung merupakan salah satu nagari ( desa ) di Kecamatan Pulau Punjung, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sitiung pun akhirnya menjadi sebuah trade mark pengembangan kawasan pemukiman, sehingga bukan saja hanya untuk nama transmigran bedol desa Sitiung I, II melainkan muncul pula nama Sitiung III dan IV untuk transmigran campuran.

Tahun 1977, sebanyak 1200 KK atau 4763 jiwa rombongan transmigran dari Wonogiri berangkat ke Sitiung II. Kemudian, tahun itu juga 800 KK atau 3341 jiwa diberangkatkan ke Sijujuhan, Jambi.

Tahun 1977 – 1988 transmigran gelombang berikutnya berangkat ke Rimbobujang Jambi. Saat itu, warga Wonogiri yang berangkat sejumlah 1859 KK atau 7728 jiwa.

Tahun 1978 – 1979 sebanyak 1800 KK atau 7123 jiwa transmigran berangkat ke Kurotidur, Bengkulu. Kemudian tahun 1979 – 1980 sebanyak 2400 KK atau 9595 jiwa berangkat ke daerah P.Panggang ( Sumsel ), Pamenang ( Jambi ), Baturaja ( Sumsel ) dan Kotahun ( Bengkulu ).

Waduk Gajah Mungkur akhirnya selesai dibangun pada tahun 1981 dan diresmikan pada tanggal 17 November 1981.

Mereka kemudian menempati tempat tinggal baru. Jauh dari tanah kelahirannya di Wonogiri. Aturannya, selama 10 tahun mereka tidak diperkenankan memindahtangankan tanah serta perumahan.

Jika hal ini dilanggar, maka warga transmigran akan kena sanksi. Yaitu pencabutan hak milik.

Tempat baru ini, lebih hijau dibandingkan Wonogiri kala itu. Setelah sampai disana, mereka turun dari kendaraan pengangkut.

Dengan haru, warga Wonogiri itu memasuki rumah baru mereka. Saat itu, hari mulai gelap. Dan rumah pun belum berlampu.

Sembari menengok ke luar rumah, disekitar asap mengepul dari dapur umum yang dilayani oleh 20 orang.

Kala itu, seorang bapak keluar rumah dan dia melambaikan tangannya kepada pejabat serta pengantar. Mereka pun mulai meninggalkan lokasi transmigran, kembali ke Wonogiri setelah selesai mengantarkan warga transimgrasi.

Pak Atmosuwito, asal Karanglo sambil berkata mohon doa restu untuknya dan keluarga disana. Sambil sesekali mengusap kedua matanya yang tampak sembab.

Perjuangan 10.139 KK warga Wonogiri dengan jiwa kenegarawanannya banyak membuahkan hasil. Orang Wonogiri yang dikenal ulet dan pekerja keras mampu menunjukkan keberhasilan sebagai warga transmigran.

Ada yang saat ini sukses dengan berbagai usahanya. Dari anak keturunan mereka, ada yang menjabat di birokrasi dan jalur politik.

Pengorbanan mereka tidak sia – sia. Kini, waduk Gajah Mungkur membawa banyak manfaat.  Bendungan Serbaguna Wonogiri seluas 8.800 ha mampu mengendalikan arus air Bengawan Solo dari 4.000 m3/detik menjadi 400 m3/detik. Pengendalian air bendungan ini mampu mengairi secara teknis 23.200 ha sawah dan dari pengembangan anak sungainya mampu mengairi lagi 23.600 ha sawah.

Selain sebagai pengendali banjir, waduk Gajah Mungkur pun bermanfaat juga sebagai pengembangan wilayah. Salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah yang dimaksud adalah tersedianya sumber listrik bagi masyarakat. Sumber energi listrik merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi pengembangan wilayah, terutama pengembangan wilayah perkotaaan.

Penambahan energi listrik dari Waduk Wonogiri merupakan suplai arus listrik dari Palur Karanganyar yang menuju Kabupaten Wonogiri. Kelebihan sisa tenaga listrik yang dihasilkan oleh PLTA Gajah Mungkur diserap wilayah Jawa Tengah untuk program listrik masuk desa.

Manfaat lain dari pembangunan Waduk Serbaguna Wonogiri ini adalah kemungkinan pengembangan perikanan darat dan pariwisata. Kandungan air sebesar 750 juta m3 yang tersedia merupakan sumber perikanan yang sangat potensial.

Pembangunan Waduk Gajah Mungkur, selain mempunyai manfaat yang tersebut di atas, juga dikembangkan sebagai kawasan wisata alam.

Waduk Gajah Mungkur Saat Ini

Sebagai Ikon Kabupaten Wonogiri

Bahkan, saat ini Waduk Gajah Mungkur menjadi ikon bagi Kabupaten Wonogiri. Sepantasnyalah kita berterimakasih kepada saudara – saudara kita yang rela meninggalkan Wonogiri untuk proyek pembuatan waduk ini.

Seiring doa kita bersama, kesuksesan dan kebahagian dimanapun saat ini warga transmigran dari Wonogiri semoga selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan YME.

Dan sebagai warga Wonogiri yang saat ini tinggal serta menikmati indahnya Waduk Gajah Mungkur, mari bersama kita lestarikan keberadaannya. Kita jaga bersama – sama. Mengingat, bagaimana besarnya “pengorbanan” saudara handai taulan kita saat itu dengan jiwa kenegarawanannya mensukseskan pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Salam sukses buat saudara kami warga Wonogiri di Sitiung dan lokasi transmigrasi lainnya. Jika kita bertemu dimanapun berada, sampaikan cerita bahagia untuk anak cucu kita.

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *