Memaknai IKAPTK Sebagai Sebuah Ikatan Keluarga

oleh

Mencoba memaknai arti sebuah ikatan keluarga. Ada beberapa hal yang akan saya tuliskan di forum ini, barangkali kita bisa bersama – sama mencoba untuk mengulas dan memahaminya. Memaknai IKAPTK sebagai sebuah ikatan keluarga, apa maksudnya? IKAPTK singkatan dari Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. Sebelum membaca tulisan ini, anda bisa membaca lebih lanjut di bagian Sejarah terbentuknya IKAPTK.

Portal forum ini merupakan salah satu ruang informasi yang mungkin bisa bermanfaat bukan saja bagi para alumni atau purna praja. Sebagai purna praja IPDN/STPDN, tujuan menulis bagi saya adalah sebagai pengingat diri saya sendiri. Selain itu, forum ini juga sebagai catatan online serta ruang berdiskusi, menyampaikan ide atau gagasan dan bahkan memberikan informasi – informasi umum lain yang mungkin bermanfaat bagi para pembaca.

 

#Apa Sih Ikatan Keluarga

Anda punya keluarga ?

Apa yang anda rasakan di keluarga anda ?

Bagaimana anda menciptakan kehangatan dalam keluarga anda ?

Apa tujuan anda dalam keluarga anda ?

Awal membentuk sebuah keluarga pastinya ada sebuah rasa dan cinta. Rasa dan cinta yang dimaknai sebagai kebersamaan meraih sebuah impian atau tujuan.

Cinta itu sangat istimewa.

Unsur yang sangat penting bagi terbentuknya sebuah keluarga. Keluarga yang saya maknai adalah Saya ( sebagai Ayah ), Istri saya ( sebagai Ibu ), Anak – anak saya. Itu keluarga saya. Mereka ada dan hadir di kehidupan saya karena cinta.

Variabel penting lainnya dalam sebuah ikatan keluarga adalah tujuan yang sama.

Ikatan keluarga mempunyai sebuah tujuan. Tujuan nya jelas menjalani hidup dalam kebersamaan, cinta kasih dan ibadah kepada Tuhan dalam satu keluarga.

Jika tanpa tujuan yang dibangun, hendak dibawa kemana keluarga itu?

Untuk mencapai satu tujuan maka kebersamaan itu penting. Betapa tidak, ibarat dua orang berjalan kaki menuju ke suatu tempat yang sama namun yang satu ke kanan dan satu ke kiri. Kapan tujuan itu akan tercapai?

Sudah jelas di keluarga saya itu dibuktikan dengan catatan administrasi kependudukan, yaitu Kartu Keluarga. Di sana tertuliskan nama sebuah keluarga yang terdiri dari saya, istri dan anak.

Di Kartu Keluarga saya tidak ada nama paman, bibi, tetangga, apalagi pacar..haha..,

Artinya, bagi saya mereka adalah orang lain ( dalam tanda kutip ).

Saya pun bekerja dan mencukupi kebutuhan hidup mereka. Bersama istri untuk membangun bertahap apa – apa saja yang menjadi tujuan hidup kami.

Kami memikirkan kebutuhan kami. Kebutuhan makan, kebutuhan tempat tinggal, kebutuhan pakaian, kebutuhan lainnya ( hiburan, sekolah dan masa depan anak, masa tua, dsb ), kebutuhan penyelesaian masalah – masalah kami.

Fokus saya adalah mencukupi kebutuhan dan kepentingan serta penyelesaian masalah – masalah mereka. Lalu, bagaimana dengan paman, bibi, tetangga, orang tua dan lainnya ? Ya..bukan tidak sama sekali memikirkan mereka, namun jelas prioritas mana yang perlu saya fokuskan dalam mencukupi kebutuhan dan kepentingan serta penyelesaian masalah.

Simplenya…begini..

Paman.., tidak masuk dalam kartu keluarga saya. Dia punya kartu keluarga sendiri, prioritasnya mencukupi kebutuhan bibi dan sepupu – sepupu saya, serta penyelesaian masalah mereka.

Tetangga…., mereka pun sama. Walau tetangga dekat rumah, merek pun punya priortas sendiri dalam mencukupi kebutuhannya serta penyelesaian masalah mereka sendiri.

Jadi, prioritas pencukupan kebutuhan ataupun kepentingan serta penyelesaian masalah dalam hal ini, saya tentunya lebih memprioritaskan keluarga saya. Prioritas untuk mereka ( paman,bibi, tetangga ) tidak mungkin melebihi prioritas ke isteri dan anak Рanak saya.

Sampai disini jelas yang saya maksudkan…

ikaptk
sumber pic : screencrush

#Memaknai IKAPTK Sebagai Sebuah Ikatan Keluarga

Alumni atau purna praja itu bervariasi.

Maksudnya ?

Kalau saya melihat, dari segi usia atau tingkatan bahkan saat masih menjadi praja pun ada tingkatannya. Muda, Madya, Nindya dan Wasana. Lalu Purna Praja….

Demikian juga ada purna muda, purna senior, purna mapan dan purna pensiunan.

Menganalog bahasan Ikatan Keluarga di atas, bahwa IKAPTK sebagai sebuah ikatan keluarga alumni atau purna sekolah pendidikan tinggi kepamongprajaan. Ini adalah ikatan keluarga purna atau alumni.

Bagaimana di luar itu ?

Mereka adalah orang lain ( dalam tanda kutip ) seperti penjelasan di atas.

Siapa mereka ?

Ya..ada praja, ada institusi atau lembaga, ada dosen – dosennya, ada THL nya, ada a’a bala – bala nya, bahkan mungkin ada “lilis’ nya..

Walaupun mereka pernah ada dalam sejarah kehidupan kita, pernah menjadi komponen dalam hidup kita namun dalam Ikatan Keluarga Purna atau alumni mereka saya sebut “orang lain”.

Sebutan itu memaknai konsep prioritas tadi. Fokus pemenuhan kebutuhan atau kepentingan anggota dalam sebuah ikatan keluarga di IKAPTK adalah lebih prioritas dari pemenuhan kepentingan serta penyelesaian masalah mereka. Apalagi untuk alumni perguruan lainnya.

Ikatan keluarga manapun, organisasi apapun tujuannya untuk membantu menyelesaikan masalah yang di hadapi oleh anggotanya. Bukan masalah orang lain. Sebab, orang lain tentunya yang mereka prioritaskan penyelesaian masalah mereka sendiri terlebih dahulu.

Terkadang fokus ini melenceng dari makna ikatan keluarga tadi. Misalkan, ada suatu permasalahan yang menyangkut tentang praja. Kita sebagai purna buru – buru serta menggebu – gebu membantu permasalahan mereka.

Menurut saya itu kurang tepat. Praja punya organisasi, jika saya dulu ada namanya Wahana Bina Praja. Organisasi internal mereka. Salah satu tujuannya tentunya membantu menyelesaikan masalah – masalah internal mereka.

Lembaga…, mereka sudah punya organisasi juga. Barangkali anggotanya terdiri dari para pengasuh, dosen – dosen, pejabat – pejabat struktural yang ditugaskan untuk mengurusi lembaga tersebut.

Mereka di gaji, punya tupoksi jelas untuk mengurusi lembaga tersebut. Tentunya ada prioritas serta tanggung jawab mereka untuk menyelesaikan permasalahan internalnya.

#Membantu bukan berarti mengambil alih masalah

Menurut saya, membantu bukan berarti mengambil alih masalah.

Membantu menyelesaikan masalah terkait praja atau lembaga atau lainnya, tidak berarti kita mengambil alih masalah mereka.

Prioritas penyelesaian masalah dalam ikatan keluarga saya, ataupun jika organisasi seperti IKAPTK tentunya cenderung fokus dalam penyelesaian masalah internal. Yaitu ikatan keluarga purna itu sendiri.

Nah…

Apakah saat ini kita sudah seperti itu ?

Apakah sudah memikirkan terkait dengan hal – hal pengembangan, atau penyelesaian masalah ikatan itu ?

IKAPTK merupakan ikatan keluarga alumni atau purna praja. Siapa purna praja ?

Praja setelah lulus menjadi alumni atau purna praja. Mereka saya klasifikasikan sebagai purna muda ( baru lulus sampai dengan kurang lebih lima tahun pasca kelulusannya )

Mereka belum tentu memahami tugas – tugas nya sebagai purna dan bekerja sebagai seorang ASN. Sebab, pastinya sangat berbeda apa yang diperoleh saat menjalani pendidikan serta saat terjun langsung di masyarakat.

Mereka membutuhkan kita.

Butuh pendampingan awal, nasehat dan bimbingan agar bisa memahami serta bekerja dengan baik sesuai tupoksi masing – masing.

Mestinya itu yang menjadi fokus kita saat ini. Ibarat keluarga tadi, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Beberapa hal yang mungkin di butuhkan oleh purna muda ini antara lain misalnya, mereka butuh informasi bagaimana bekerja dengan baik.

Mereka butuh informasi bagaimana bersikap dalam pelayanan yang baik.

Bagaimana peluang – peluang ke depannya menduduki sebuah jabatan.

Artinya..

Purna Muda ini butuh informasi dan bimbingan..

Purna Senior ( yang usianya antara 30 sampai 40 tahun )..

Purna level ini sudah punya beberapa pengalaman dan keahlian. Banyak yang sudah menduduki jabatan struktural, bahkan ada yang berpindah ke dunia politik walau tidak banyak.

Mereka punya keahlian tertentu, hasil dari pengalaman bekerja. Bisa memperoleh tambahan penghasilan dari keahliannya.

Terkadang ada yang kemudian mencari hal di luar pekerjaan untuk menambah penghasilan, bisa saja dengan bisnis dan sebagainya.

Mereka juga sedang butuh peningkatan ilmu baik dalam manajemen maupun kematangan kepemimpinan.

Mereka sedang melaksanakan pendidikan lanjutan, di dalam negeri maupun luar negeri. Misal S2..S3 dan sebagainya.

Mereka sudah punya keluarga serta menapaki kemapanan dengan membuat rumah, beli mobil atau kebutuhan sekunder lainnya.

Mereka sudah mulai memperoleh dan sedikit demi sedikit bisa menabung atau mengumpulkan modal untuk kebutuhan – kebutuhan akan datang.

Lalu ada juga level yang saya sebut dengan Purna Mapan ( usianya antara 40 sampai dengan 55 tahun )

Mereka di level ini ada yang sudah mengkuliahkan anaknya. Sudah mulai mengkondisikan diri untuk persiapan pensiunnya.

Mungkin juga sudah punya banyak usaha yang menghasilkan, punya investasi atau deposito, punya banyak aset yang dikumpulkan dari jerih payahnya bekerja.

Mereka punya banyak relasi yang bisa memberikan peluang lebih besar untuk sebuah kegiatan peningkatan penghasilan atau relasi dalam peningkatan tugas – tugas nya.

Mereka punya banyak peluang yang mungkin tidak bisa di jalankan sendiri, membutuhkan tenaga muda untuk bisa mengakomodir atau mengeksekusinya.

Mereka membutuhkan ide baru dari pikiran – pikiran fresh yang bisa saja diperoleh dari purna muda yang mungkin punya ide keren. Purna level ini butuh komunikasi kepada mereka.

Dan sebagainya…

Kemudian…

Purna Pensiunan ( Ini rentang usia 55 tahun sampai tua bahkan meninggal..di atas usia itu..)

Di level ini, mereka mungkin punya banyak kekayaan atau modal dari hasil kerja selama ini. Juga dari hasil usaha atau bisnis misalnya.

Di usia ini, saat nya mempersiapkan diri kembali kepada-Nya. Maka, banyak yang “semeleh“, menep, mengendalikan diri dan fokus untuk kehidupan selanjutnya…

Untuk relasi, kemungkinan mereka juga punya banyak sekali relasi yang top markotop..joss gandos…

Punya banyak waktu luang yang ingin mereka manfaatkan dengan sebaik – baiknya…namun mungkin saja mereka bingung, atau bahkan ingin berbagi namun bagaimana dan dengan siapa…dan sebagainya…

ikaptk
sumber pic : pixabay

#Fokus pada prioritas dalam ikatan keluarga

Dari yang saya maknai dan lihat, keberadaan kita saat ini belum sepenuhnya tertuju pada sebuah tujuan dalam ikatan keluarga.

Masih banyak masalah dalam ikatan keluarga, internal kita namun di antara anggota atau pengurus malah mengurusi masalah “orang lain”.

Siapa yang akan memikirkan masalah kita ?

Harapan saya..

Tiap individu dalam ikatan keluarga ini ( bukan saja pengurus ) bertanggung jawab menyelesaikan masalah diri sendiri ( alumni ). Sesuai dengan kemampuannya, serta kelebihan dan kekurangan masing – masing..

Masih banyak yang perlu kita benahi dalam keluarga itu.

Kebanyakan kita mengurusi hal yang jelas sudah di urusi oleh “orang lain” tersebut. Kita bahkan sampai ngalor – ngidul gak jelas, bahkan sampai berdebat habis antar anggota untuk mempertahankan pendapat masing – masing.

Semua merasa benar, bahkan paling benar.

Mbok ya kita coba, berbenah diri mulai dari makna ikatan keluarga ini. Kita mungkin bisa saling berkomunikasi, memberikan manfaat dengan kekuatan serta kompetensi yang dimiliki.

Jika kita bergerak atau berkecimpung dalam pengabdian, pemerintahan serta kemasyarakatan. Apa yang akan kita wujudkan bersama ?

Hal ini bisa dimulai dari tingkat ikatan keluarga paling kecil, misal IKAPTK Kabupaten. Jika ada masalah terkait anggota, mestinya di wilayah itu IKAPTK berperan andil membantu penyelesaian masalah.

Bahkan, bagi purna pensiunan misalnya. Barangkali sudah punya sebuah proyek atau usaha yang membutuhkan bantuan atau tim. Atau punya perusahaan. Bisa saja para alumni diberi kesempatan mendapatkan pengetahuan atau ilmu baru dalam berbisnis.

Atau misal sebuah usaha bukan milik purna pensiunan atau purna mapan, barangkali punya kerabat. Bisa saja merekomendasikan ( ini juga bisa untuk hal lainnya yang terkait dengan bidang kita )

Bisa juga memberikan tanggung jawab padanya, untuk mengamalkan keilmuannya. Kemudian mendapatkan hasil yang pantas dari jerih payah itu. Bisa juga permodalan ada dari purna pensiunan ini atau purna mapan.

Kata kuncinya antara lain menyumbang dana atau permodalan, menyumbang keahlian dan bekerja bersama

#Harapan besar masyarakat

Barangkali harapan masyarakat kepada para alumni atau purna praja IPDN cukup besar. Dalam hal memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara. Kita diharapkan mampu memberikan warna yang baik bagi tatanan pemerintahan di negara ini.

Sebab, purna praja merupakan lulusan sekolah pemerintahan. Yang dididik serta di ajari mengenai tata kelola pemerintahan.

Harapan masyarakat tentunya tidak salah. Mengingat, kita menjalani pendidikan kedinasan. Yang di biayai oleh negara.

Maka…

Ketika ada warna yang kurang baik di mata mereka. Kita saling mengingatkan, saling support dalam ikatan keluarga ini.

Tentunya…saya yakin, lulusan IPDN atau purna praja itu mampu..

Kemampuan serta potensi kita yang tau. Ibarat kita beli baju, pasti paham ukuran baju kita sendiri.

Logikanya, jika ukuran baju anda itu M lalu memaksakan diri untuk menggunakan yang XXL, apa pantas ?

Apakah nyaman dengan baju itu ?

Dan bagaimana penilaian orang atas performance tersebut ?

Terakhir…

Dalam sebuah ikatan keluarga ini, dasar hukum ilmu sosial berlaku. Ilmu pemerintahan bukan ilmu pasti. Artinya, jika kita berbicara mengenai pemahaman kebenaran yang kita yakini, bisa jadi apa yang saya tulis ini saya anggap benar..namun bisa juga anda anggap salah..namun, jangan menjudge bahwa anda juga benar mutlak..

Seperti yang saya katakan di atas, ini sebagai pengingat diri saya sendiri..perbedaan pendapat jika itu kemudian menimbulkan lebih dominan efek kurang kebermanfaatannya..tinggalkan..woles

Baca juga : Bapak Mengajariku : Dilarang Keras Tertawa Keras!

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

One thought on “Memaknai IKAPTK Sebagai Sebuah Ikatan Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *