Euforia “Pernah” Lebih Dulu

oleh
stpdn
sumber : pixabay

Kakak dulu, Dekkk……” 

Pernah ga sih denger kalimat seperti ini…. 

uhhf.. pasti bukan sering lagi….. 

bangettt…. 

Faktanya, kalimat “merdu” ini tidak hanya selama kita berstatus sebagai praja tingkat bawah bawah sekali (baca: muda praja), yang begitu lugu,lucu,dan bau… , bahkan kalimat ini masih bersenandung merdu saat sudah menjadi madya praja yang mulai menemukan jati dirinya, sampai pada tingkat nindya praja yang udah kinclong kinclong mentereng (banyak pin UKP, tali temali di dada, dan mangkok bersinar sinar). Ya…lucunya, saat Wasana dan jadi senior tertinggi tinggi sekali, di ksatriaan ,kalimat ini justru “KITA” lah yang mengucapkannya. 

Saat menjadi yang terjunior , kita hanya mendengar (atau pura-pura mendengar, manggut manggut pasrah, padahal ngantuk bin boring ). Kalimat “Kakak dulu, dek..” menjadi mantra kalimat pembuka untu lembaran lembaran cerita senior pada juniornya. Isinya , ga lepas dari kehebatan, kesangaran, kegagahan, dan hal hal luar biasa si empunya cerita. 

Oya… bahkan sampai kita tak lagi menjadi praja… saat sudah masuk di dunia kerja yang terpampang nyata… kalimat ini sering kita dengar, dan juga sering kita ucapkan. Datang… hempas lagi.. datang… hempas lagi… 

Salah?? 

Engga lah… 

“Kakak dulu, dek…..” menggambarkan bahwa bahwa kita ingin sharing pengalaman yang sudah dijalani kepada junior. Kita ingin yang lebih muda mengambil hikmah dari kejadian dan peristiwa lampau. Namun, jika terlampau sering, bukan tidak mungkin itu hanya kebanggaan masa silam dan tak mau menerima perubahan di jaman sekarang. 

Maka , jangan terpasung pada virus “Kakak dulu, dek…”.. ayolah para senior (baca: kita)…bukalah pikiran, bukalah telinga, bukalah mata hati , perubahan sudah berjalan.. dan perubahan itu nyata…

Kiky_

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *