El Clasico, Real Madrid VS Barcelona Dan Hakikat “Musuh Abadi”

oleh
el clasico real madrid vs barcelona

Sebelum dini hari nanti pertarungan besar terjadi layaknya perang Mahabharata, duel klasik antara Real Madrid vs Barcelona. Ada beberapa poin yang ingin saya bahas sebelum saya tidur cepat dan pasang alarm bangun pukul 1.45 WIB nanti.

El Clasico adalah pertarungan hidup mati meraih poin penuh dalam kancah dunia sepakbola spanyol yang dikemas dalam La Liga Santander. Saat ini, keberuntungan Real Madrid sedang di atas angin. Madrid pun lolos ke semifinal Liga Champions dan bertemu dengan rekan se kotanya, Atletico Madrid.

Berbeda dengan Barcelona, klub satu ini performanya naik turun dan dalam pekan – pekan terakhir terlihat keberhasilannya kurang sempurna. Pasca dikalahkan oleh Juventus dengan agregat 3 – 0, Barca tak mampu lolos ke semifinal Liga Champions musim ini. Jika lolos, maka ada tiga tim La Liga yang bertarung memperebutkan Trophy Champions.

Madrid merupakan tim peraih Thropy terbanyak dalam Liga Champions selama ini. Jika pada musim ini Madrid menang, maka akan menjadi Trophy yang ke – 12 bagi mereka. Beberapa waktu lalu muncul petisi yang muncul di change.org dan digalang oleh akun Justicia Deportiva untuk mengembalikan 5 trohpy yang telah diraihnya. Petisi itu sebagai bentuk protes terhadap madrid, disebutkan bahwa mereka menuntut UEFA mencabut lima trofi awal Madrid demi sportifitas dan demokrasi.

Menurutnya, raihan keberhasilan Madrid diperoleh dengan cara yang kurang sesuai dan diakui dalam kompetisi olahraga. Sebab, kala itu lima trophy liga champions diperoleh Madrid saat zaman diktator Spanyol, Jenderal Franco.

Jenderal itu menguasai Spanyol tahun 1930 – 1975, menjadikan Real Madrid sebagai alat melanggengkan kebijakan politiknya yang menginginkan hanya ada satu nasionalisme di Spanyol tanpa mengenal suku bangsa lainnya yang ada saat ini seperti Basque, Andalusia dan Katalonia.

El Clasico selalu dinanti pecinta bola, pertarungan ini serasa final dalam kompetisi layaknya Liga Champions.

Dalam sebuah pertandingan ada kalah dan menang. Itulah hakikatnya hidup ini. Bukan saja dalam dunia sepakbola, bahkan dikehidupan kita sehari – hari pun kita selalu mengalaminya.

Kalah menang yang kadang tidak kita sadari antara lain gejolak hati. Saya yakin siapapun merasakan hal tersebut setiap waktu. Kalah menang yang ditunjukkan oleh hasil antara harapan dan kenyataan. Yang di tunjukkan oleh keinginan serta nafsu kita.

Seperti juga dalam dunia politik, masih hangat dalam perbincangan banyak orang baik secara offline maupun online tentang perhelatan pemilihan Gubernur DKI yang mempertemukan pasangan Ahok  Djarot dan Anis – Sandi. Bahkan, pengaruh dari kompetisi itu pun bukan saja di alami oleh mereka yang secara langsung akan menerima kebijakan dari pemenang pilkada. Di luar itu, ibarat pertandingan bola tadi yang hanya sekedar penonton pun juga tersentuh gejolak hati dan andrenalinnya baik sebagai fans maupun pemerhati.

Jika fans Barca dan Madrid, pertandingan nanti akan sangat ditunggu – tunggu. Bagi yang tak suka bola, mungkin mereka sekedar mengikuti perkembangan informasi yang terbaca saat walking on their facebook wall.

Pasca pertandingan itu nanti, biasa akan kita lihat euforia – euforia yang muncul menghiasi dinding dunia maya kita. Pastinya euforia itu sebagai hasil akhir dari sebuah pertandingan. Dan yang menjadi pemenang akan lebih percaya diri untuk memperlihatkan kebahagiaan serta kebanggannya atas keberhasilan tim atau pihak yang di dukungnya.

Bagaimana dengan fans dari tim yang kalah ? Tentunya beragam sikap akan tervisualisasikan dengan cara masing – masing. Ada yang legowo dan ucapkan selamat kepada tim pemenang, ada juga yang mencoba mengkritisi hasil akhir pertandingan. Ada juga yang biasa saja memaknainya sebagai sebuah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan. Wong setiap harinya saja kita terbiasa mengalami kalah dan menang dari gejolak hati tanpa kita sadari sebagai kebiasaan yang terpola.

Pertanyaannya, apakah kemudian pemain kedua tim akan berseteru selamanya ?

Dalam pertandingan bola, misal saja pemain Madrid dan Barcelona yang nanti akan bertemu di El Clasico. Mereka akan mati – matian berjuang memenangkan pertandingan. Uniknya,  pemain dua klub ini walau seolah “bermusuhan” , suatu ketika mereka akan berjuang bersama – sama. Manakala, ada momen kompetisi yang menggabungkan pemain tersebut dalam sebuah tim. Sebut saja Tim Spanyol. Kala Piala Dunia, antara pemain Barca dan Madrid bergabung menjadi satu menggempur lawan secara bersama – sama. Bahkan mereka tidak memikirkan bagaimana ketika momen El Clasico terjadi. Mereka akan melepas semua atribut sebagai pemain klub, mereka akan bergabung dalam sebuah tim yang berjuang memenangkan tim tersebut sampai titik keringat penghabisan.

Kebersamaan akan terbentuk secara sadar dan ikhlas manakala ada “perjuangan” bersama. Dalam hal ini, tim berjuang untuk memenangkan kompetisi besar yang mempertemukan tim – tim sebuah negara.

Hal ini memberi kita pemahaman bahwa sebenarnya tidak ada musuh abadi. Ketika label El Clasico sebagai sebuah label kata kunci “musuh abadi” dari dua klub bola yaitu Real Madrid dan Barcelona, kata kunci inilah yang menjadikan menariknya sebuah pertandingan. Sehingga, tidak menutup kemungkinan bahwa ada maksud tertentu, strategi tertentu dengan kata kunci tertentu yang “menjual”.

Siapa yang akan beruntung ? Manakala suatu ketika label ini hanya akan menjadi sebuah label yang tak bermakna ketika dua klub ini bergabung dalam sebuah tim yang bertugas membawa nama bagi sebuah kepentingan yang lebih besar.

Satu lagi. Sudah lihat film Fast And Furious 8 ? Apa makna yang ada dalam film menarik tersebut. Bahwa ternyata ketika “musuh abadi” itu sebelumnya merupakan aktor yang berperan sebagai lawan dari tim nya Dom, suatu saat mereka menjadi kawan yang saling membantu untuk kepentingan yang lebih besar.

Begitulah hidup bro. Pertanyaan selanjutnya, kepentingan siapa ? Jawabnya ada di dalam hati nuranimu paling dalam.

So, El Clasico berlalu, kita tetap bersatu.


 

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *