Coba Kita Maknai Falsafah Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong..Renungi Maknanya Dan Praktekkan Dalam Kehidupan Anda

oleh

Kehidupan ini ada hitam dan ada putih. Ada baik dan ada buruk. Ada siang dan ada malam. Seperti hal nya Wiro Sableng Murid Sinto Gendeng, dengan simbol di dadanya 212. Di kisahkan bahwa angka 212 itu merupakan sebuah makna, bahwa dalam diri kita ini ada dua unsur dalam satu jiwa. Itu adalah ingat duniawi dan Tuhan, keduanya sangat berbeda namun tidak bisa kita lepaskan dan pisahkan dari diri kita.

Banyak hal yang saat ini kita temui. Banyak kejadian yang patut untuk kita renungi bersama. Manusia hidup tak akan pernah terlepas dari masalah. Masalah yang kita temukan karena ulah kita, atau kita hanya kena imbasnya dari lecutan api kecil masalah itu.

Hal yang kecil bisa jadi besar, hal yang kita anggap tak pantas untuk di besarkan terkadang membesar secara random. Apalagi di era digitalisasi saat ini, komunikasi begitu cepat. Bahkan, mungkin kamu merasakan kenapa hari – hari berjalan dengan sangat cepat.

Memaknai setiap proses hidup itu tidak mudah. Namun, kita bisa melakukannya. Bagaimana diri kita menjadikan sebuah makna positip dalam setiap prosesnya. Hasil akhir yang diharapkan dalam proses itu pastinya hasil akhir yang baik bagi kehidupan kita.

Mungkin kita merasakan carut marut dalam kehidupan ini. Bahkan, dalam diri kita pun merasakan carut marutnya hati dalam berkehendak. Kehendak yang didasari ego tanpa memperdulikan keberadaan yang lain, bisa jadi menimbulkan sebuah hasil akhir yang tidak baik bagi diri kita sendiri.

Dalam curahan hati di tulisan ini, saya mencoba menggugah hati anda merenungi serta mengambil hikmah baik setiap proses kehidupan kita. Jika pun saat ini anda sedang dalam tahap menyelesaikan permasalahan, ada baiknya sejenak merenungi, sejenak untuk memahami serta mengendalikan diri sebaik mungkin agar masalah bisa memberikan ilmu baru serta pelajaran baik bagi kita.

Pernahkah kita mendengar falsafah Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong? Mungkin anda pernah mendengarnya, dan barangkali sebagian kita hanyalah membaca dan mengetahui maknanya.

Kita hanya menjadikan falsafah hanyalah falsafah yang tidak perlu direnungkan. Padahal kalau kita mau merenungkan maknanya untuk kemudian mempraktekkannya maka akan ketemu sebuah hikmah yang besar. Saya berharap setelah anda membaca curahan hati dalam tulisan ini, anda bisa menerapkannya.

Kawan,

Hidup ini terlalu banyak isi dari nafsu, ego dan kemelekatan. Jika suatu hari kemelekatan yang kita miliki diambil kembali, modal utama adalah diri yang sejati untuk bisa tetap berdiri menjalani kehidupan sesuai dengan makna hidup ini.

Kelak kita mencapai kekosongan yang sarat dengan makna hidup ini, kita akan menemukan sebuah kebahagiaan sejati yang adanya di dalam diri dan bukan karena kemelekatan duniawi seperti harta, uang, jabatan, kehormatan tubuh fisik dan hubungan duniawi.

Kosong adalah isi dan isi adalah kosong

Kosong berarti mengkosongkan diri kita. Cobalah untuk mengkosongkan pikiran dari hal-hal negatif yang mengotori pikiran seperti niat jahat, iri, dengki, sombong dan sebagainya. Jika pikiran kosong atau kembali murni maka kita akan semakin mudah memahami esensi Illahiah. Kita akan lebih mudah menerima sesuatu. Kita akan lebih mudah memahami sesuatu, lebih mudah terisi oleh sesuatu.

sumber : internet

Ibarat gelas yang kosong, pikiran yang digunakan untuk mencerna sudah kosong. Secara otomatis dan khususnya jika diniatkan dari awal untuk mencari kebaikan maka pikiran yang kosong tersebut akan lebih mudah diisi esensi Kebaikan.

Mungkin seseorang terlihat diam dan “kosong”, namun ternyata kita sering mendapati orang itu ternyata orang yang cerdas dan berilmu.

Namun sebaliknya, jika pikiran sudah dipenuhi oleh hal-hal lain, khususnya yang selain kebaikan padahal hal tersebut mungkin ditujukan untuk mencari kebaikan bisa jadi kita malah akan semakin susah untuk menemukannya.

Ibarat sebuah gelas yang sudah berisi kopi penuh, tidak mungkin akan diisi minuman lain tanpa mengkosongkannya terlebih dahulu.

Sebaliknya, “isi adalah kosong”. Siapapun yang merasa hebat, merasa pintar, merasa tinggi sejatinya ia kosong. Setiap yang merasa bisa sebenarnya ia tidak memahami hikmah. Dan setiap ada ilmu dan kebijaksanaan yang baru tidak akan bisa masuk meresap dalam hatinya. Tidak peduli ia adalah pejabat, bahkan presiden sekalipun. Yang namanya kesombongan adalah saudara setan, dan tipu daya setan itu sangatlah lemah.

Sesuatu yang berilmu tapi disertai dengan kesombongan tak akan bermakna apa-apa, sedangkan sesuatu yang meskipun tak terlalu berilmu tapi disertai dengan kerendahan hati maka itu akan bermakna lebih. Itulah makna kosong adalah isi, isi adalah kosong.

Nah, kadangkala kita mendapati hal – hal yang membuat kita gatal untuk menyikapinya. Apalagi di era digitalisasi saat ini. Banyak masalah yang muncul akibat kurang bisa nya kita dalam mengendalikan diri. Mengkosongkan diri. Istilah jawanya “Suwung”, menyuwungkan diri.

Seseorang yang dalam kondisi SUWUNG, dia mengalami kenihilan dalam alam pikir dan kehendaknya. Kekosongan ini menjadikan dirinya netral, tidak berpihak, tidak berkemauan untuk menonjolkan diri, mengikuti arus, dan membiarkan segala yang berada di sekitarnya berjalan sebagaimana alam menghendakinya.

Dirinya sendiri tidak ikut serta dalam hiruk pikuk di sekitarnya. Dia berdiam diri, berkontemplasi dan menyibukkan dengan diri sendiri. Kalau ada gejolak di luar, dia memahami namun tidak bereaksi.

sumber : google

Kosong atau suwung bukan berarti gila. Ini berbeda, sebab ada yang mengatakan bahwa orang gila itu suwung atau kosong pikirannya. Bahasan saya bukan ini, namun yang dimaksud adalah kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri.

Renungkan sejenak syair ini :

Tan samar pamoring Sukma,
sinukma ya winahya ing ngasepi,
sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning wahana,
tarlen saking liyep layaping ngaluyup,
pindha pesating supena,
sumusuping rasa jati.

Tidak lah samar sukma menyatu
meresap terpatri dalam keheningan semadi,
Diendapkan dalam lubuk hati
menjadi pembuka tabir,
berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti terlepasnya mimpi
Merasuknya rasa yang sejati.

Sajatine kang mangkono,
wus kakenan nugrahaning Hyang Widi,
bali alaming ngasuwung,
tan karem karamean,
ingkang sipat wisesa winisesa wus,
mulih mula mulanira,
mulane wong anom sami.

Sebenarnya keadaan itu merupakan anugerah Tuhan,
Kembali ke alam yang mengosongkan,
tidak mengumbar nafsu duniawi,
yang bersifat kuasa menguasai.
Kembali ke asal muasalmu
Oleh karena itu,
wahai anak muda sekalian…

Makna syair di atas kurang lebih begini.

Anda mungkin pernah merasakan sebuah keadaan bahwa kita sadar kalau kita tidak sadar. Ada anugerah Tuhan yang wajib untuk kita syukuri. Cobalah meniadakan segala ilusi atau angan – angan dan berbagai macam penampakan, segala sesuatu yg ada kita tiadakan dan kita nol kan, apabila sudah berhasil kita nol kan maka kita sudah masuk ke rasa sejati atau telenging rahsa (bali alaming ngasuwung) yg tenteram dan terbebas dari nafsu duniawi.

Maka dari itu kita akan tahu asal kita yaitu kosong seperti sebelum alam semesta diciptakan, yg ada adalah diri yg bersaksi atas kekosongan (jawa : sejatine ora ono opo – opo sing ono kuwi dudu) maka kita telah berpulang segala kepemilikan dan ego pribadi kepada Yang Maha Memiliki (mulih mula mulanira).

sumber : pixabay

Ini sangat penting untuk dilakukan para orang muda (mulane wong anom sami) supaya bisa membebaskan ruh yang terkurung di diri kita oleh ego dan nafsu agar kita menjadi satrio piningit dan berkesadaran ruhani (satrio piningit pinandhito) yang diberi petunjuk oleh Allah (sinisihan wahyu) untuk melakoni segala sesuatunya karena Allah tanpa mengharapkan imbalan apapun (tapa ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe).

Kawan,

Mari mencoba mengosongkan diri, kosong dimaksud ketika kita mencapainya, kita capai tahapan akhir dalam pengendalian diri yang  luar biasa dan mampu mengontrol diri secara sempurna sehingga kita bisa mengetahui secara pasti kapan kita harus berbuat dan kapan kita harus menahan diri. Kesempurnaan pengendalian diri ini menjadikan diri kita memiliki kemerdekaan yang hakiki atas hidup.

Semoga bermanfaat!BNEB.11.370

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *