Bapak Mengajariku : Dilarang Keras Tertawa Keras!

oleh

Saat masih kecil, bapak mengajari saya dan berpesan untuk tidak tertawa terbahak – bahak atau tertawa keras. Kata bapak, itu “saru” ( saru = membuat malu ). Sehingga, sampai saat ini pun saya sulit untuk tertawa sampai terbahak – bahak. Paling hanya “mesem” atau senyum – senyum, bahkan jika harus tertawa tidak sampai berlebihan. Saat ini, hal itu sudah banyak dilupakan. Bahkan, kebiasaan umum tradisi ini seolah tidak lagi digubris. Tertawa boleh saja, namun jangan berlebihan apalagi sampai terbahak – bahak dan membuka mulut terlalu lebar.

Begitu mudahnya tertawa, begitu suka nya mentertawakan orang yang saat ini seolah menjadi hal yang biasa. Banyak acara – acara tv pun yang memberikan tayangan untuk tertawa dan saling mentertawakan. Ketika saya mengikuti bapak saya “ndalang” wayang kulit, ada cerita wayang yang menarik dan kemudian saya pun memahami pesan bapak. Ajaran Jawa atau filosofi – filosofi sering disampaikan dalam cerita pewayangan. Cuplikan cerita tersebut adalah sebagai berikut. Dulu, ceritanya saat dedemit atau hantu menguasai hutan dan begal menguasai jalan di Jawa Dwipa. Ada seorang Raja besar yang mempunyai nama Prabu Niwatakawaca. Jika saat ini Raja besar itu ibarat Presiden.

Niwatakawaca berasal dari sebuah negara yang disebut Manik Mantaka. Dia sangat sakti mandraguna. Bahkan para dewa pun tidak ada yang mampu menandingi kesaktiannya. Oleh karena itu, apapun permintaan sang Presiden atau Raja besar negara Niwatakawaca in selalu dituruti oleh raja – raja di Marcapada.

Niwatakawaca punya wewenang yang tak terbatas. Kekuasaannya sangat mutlak bersama para kroni – kroninya. Jangan kan warga Manikmantaka mau protes, melihatnya saja tidak berani.

Tidak ada yang berani menentang apapun kebijakan Prabu Niwatakawaca ini, bahkan ibarat saat ini ada Komisi Pemberantasan Korupsi pun, mereka tak berani melangkah untuk mengungkap kebobrokan raja ini.

Dengan kekuasaannya pun, dia sangat kaya raya. Bahkan jika diibaratkan saat ini raja saudi pun kalah kaya. Dengan kekuasaan mutlak, usaha nya jelas ada dimana – mana. Dan punggawa yang mengikutinya lah yang setia dan loyal yang selalu mendapatkan jatah dalam proyek – proyeknya.

Saking tak tertandingi si Raja ini, kepuasannya pun sulit dikendalikan. Bahkan, dia sudah menganggap tidak ada lagi musuh yang bisa mengalahkannya. Akhirnya, dia ingin menikahi bidadari putri Batara Indra. Namanya Dewi Supraba.

sumber pict : kwikku

Dewi ini sangat cantik jelita. Permintaan menikahi Supraba sulit di tolak oleh Batara Indra. Sebab, Batar Indra pun ketakutan dengan Raja raksasa itu. Batara Indra mencari siasat agar waktu bisa di ulur – ulur.

Mengetahui hal ini, Batara Guru yang notabene adalah Rajanya para dewa, meminta Arjuna yang sedang bertapa untuk melawan Prabu Niwatakawaca. Jika menang, maka Arjuna akan dinikahkan dengan Dewi Supraba. Arjuna pun bersemangat membara.

Ternyata, rencana ini di ketahui oleh Prabu Niwatakawaca. Dia pun marah besar, dan akan menyerang Kahyangan dengan membabi buta. Semua pasukan raksasa dengan segala bentuknya pun di kerahkan untuk mengobrak – abrik Kahyangan.

Perang pun tak dapat di elakkan. Arjuna pun berhadapan dengan Niwatakawaca. Namun, senjata apapun tidak bisa melukai Prabu Nawatakawaca. Bahkan, senjata Arjuna pun tidak bisa melukainya.

Nawatakawaca pun melumpuhkan Arjuna, ketika dia mau membunuh Arjuna berteriaklah Dewi Supraba yang mengetahui hal tersebut. Dia merayu Nawatakawaca untuk mengampuni Arjuna sebab sudah tidak berdaya.

Prabu ini pun termakan rayuan Dewi Supraba, dan membiarkan Arjuna tergeletak. Saat bertemu dengan Supraba, Niwatakawaca pun mudah termakan rayuannya.

Sampai – sampai dia menceritakan kelemahannya kepada sang Dewi, yaitu terletak di ujung lidahnya. Mengetahui hal ini, sang Dewi memberi kode pada Arjuna ketika Niwatakawaca tertawa terbahak –bahak dengan kerasnya sehingga mulutnya terbuka lebar.

Arjuna segera melepaskan senjata pamungkasnya pemberian dari Batara Guru, sebuah panah. Dan dilesatkan seketika secara kilat ke arah lidah Prabu Niwatakawaca. Raksasa ini pun akhirnya roboh, dia mati sebab bencana akibat terbahak – bahak tadi.

Begitulah pesan Bapak yang disampaikan dalam cerita wayang. Jadi mungkin kita sering melihat kalau orang Jawa itu takut tertawa lebar. Biasanya hanya senyum – senyum saja, sebab menjaga lidah agar tidak diketahui kelemahannya.

Bapak bilang : Dilarang Keras Tertawa Keras!!

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *