Analisa Kompetensi Seseorang Ala Bob Sadino

oleh
analisa kompetensi ala bob sadino
sumber : pixabay

Siapa yang tidak tau Bob Sadino ? Pebisnis sukses dari cara nyentrik yang dilakukannya. Beliau saat ini sudah tiada, namun namanya masih tetap terkenang bagi siapapun yang mengenal atau sekedar tau cerita tentang Almarhum Om Bob Sadino. Tulisan ini sekedar pengingat bagi saya, dari kata – kata beliau ketika kami bertemu kala itu. Barangkali hal ini bermanfaat bagi rekan – rekan semuanya. Ini merupakan sebuah konsep analisa mengenai kompetensi seseorang ala om Bob Sadino.

Analisa kompetensi seseorang ala om Bob ini disebut dengan Roda Bob Sadino atau dikenal dengan singkatan RBS. RBS sebagai sebuah diagram yang memberikan gambaran mengenai perputaran kehidupan seseorang. Dalam diagram RBS, dijelaskan khususnya pada dunia kewirausahaan. Akan tetapi, hal ini pun bisa kita tarik untuk menganalisa permasalahan di masyarakat sepanjang hal itu menyangkut mengenai kompetensi seseorang.

Secara garis besar, dalam diagram RBS itu menjelaskan bahwa dalam perputaran kehidupan manusia terdapat proses pembelajaran berupa sintesis antara teori dan praktek. Hal itu pada akhirnya menggambarkan tingkat kompetensi atau kemampuan seseorang.

Roda Bob Sadino di bagi menjadi empat kuadran yaitu kuadaran yang terletak di kiri bawah dan disebut dengan kuadran TAHU. Kemudian, kuadaran di sebelah kanan bawah yang disebut dengan kuadran BISA.

Kuadran ketiga di sebelah kanan atas yang disebut dengan kuadran TERAMPIL. Dan kuadran keempat di sebelah kiri atas disebut dengan kuadran AHLI.

Adapun gambarannya seperti di bawah ini :

analisa kompetensi ala bob sadino

#Kuadran TAHU

Di kuadran TAHU , om Bob menggunakannya sebagai gambaran seseorang yang sedang menjalani proses belajar di sekolah atau kampus.

Banyak teori – teori yang didapatkan oleh orang di kuadran ini.

Orang di kuadran ini menerima teori apapun. Makin banyak yang diperolehnya maka makin pintar mereka. Setelah lulus dari proses belajarnya, mereka mendapatkan gelar sarjana atau diploma.

Nah, hal ini seperti kita..saat kuliah dulu..banyak teori yang kita dapatkan. Meskipun, ada┬ápraktek lapangan tiap tahun akan tetapi teori – teori itu tidak bisa secara otomatis teraplikasikan ke masyarakat secara umum.

Seperti yang pernah saya rasakan, bahwa manakala teori yang saya peroleh saat itu diaplikasikan ke masyarakat, efektivitasnya kurang.

Apa sebabnya ?

Sebab dinamika yang ada di masyarakat semakin cepat berkembang.

Teori yang saya dapat belum tentu bisa diaplikasikan sepenuhnya, banyak perubahan kondisi yang ada tidak bisa diselesaikan dengan menggunakan teori yang sudah usang.

Contoh nyata lagi, ketika saya dulu diajarkan bagaimana cara menembak. Teori yang diberikan pelatih antara lain bagaimana memegang senjata, bagaimana merawat serta mengkondisikan senapan yang kita bawa.

Sampai diibaratkan bahwa senapan tersebut jangan sampai hilang dari tangan kita, ibarat istri kita. Harus selalu kita rawat dan jaga sebaik mungkin.

Kita dibekali teori dan tekhnik dan cara menembak yang baik dan jitu. Dan kita TAHU hal – hal mengenai cara mengincar serta menembak sasaran.

Namun, selama itu belum pernah saya menembak dengan menggunakan peluru sebenarnya. Misal saja di suruh menembak dengan peluru nyata, barangkali saya juga belum tentu bisa.

#Kuadran BISA

Di kuadran ini, om Bob menyebutnya kuadran Masyarakat atau Jalanan.

Orang – orang tidak dibekali dengan teori, namun mereka belajar mengerjakan sesuatu diberbagai bidang.

Mereka tidak terlalu memperdulikan hal yang bersifat teoritis.

Mereka langsung melakukan praktik, melakukan sebuah tindakan – tindakan, mengerjakan sesuatu dan belajar dari apa yang mereka lakukan tersebut.

Mereka belajar langsung di wilayah masyarakat secara nyata. Proses belajarnya adalah dari pengalaman. Pengalaman atas apa yang telah mereka lakukan.

Ketika melakukan pekerjaan dan kemudian menemukan kesalahan di hari esoknya, mereka kemudian memperbaikinya. Dan begitu seterusnya, sampai kemudian mereka bisa tanpa teori.

Dalam mengerjakan sesuatu tak luput dari namanya kesalahan. Orang di kuadran ini menggunakan kesalahan itu sebagai sebuah pengalaman sehingga secara kontinyu memperbaikinya hingga bisa mengerjakan dengan benar.

Sisi praktisnya, orang di kuadran ini mampu. Mereka adalah orang yang kompeten. Mereka bisa melakukan pekerjaan sehingga mereka pasti tahu tentan pekerjaan itu.

Beda halnya dengan mereka di kuadran Tahu, mereka tahu secara teori namun belum tentu bisa mengaplikasikan teori itu.

Nah..

Orang di kuadran TAHU biasanya menganggap orang di kuadran BISA ini sebagai orang yang tidak kompeten secara “teori”

#Kuadran TERAMPIL

Untuk orang di kuadran ini, mereka telah melewati dua kuadran di atas. Dalam melewati tahapannya pun butuh waktu cukup lama.

Hal ini merupakan wujud proses perpaduan antara kuadran TAHU dan kuadran BISA.

Orang di kuadran ini biasanya mempunyai responsibilitas atau kemampuan merespon sesuatu dengan cepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Baik secara teori maupun prakteknya.

Mereka bisa memadukan antara teori serta praktik secara bersamaan.

Teori dan praktik tersebut saling memperkuat bersinergi dan melengkapi. Sehingga, kecakapan mereka mengerjakan suatu pekerjaan semakin meningkat.

Selain kecakapan dalam melakukan pekerjaan meningkat, mereka pun bisa mempertanggungjawabkan kinerja tersebut. Orang di kuadran ini bisa di sebut juga dengan skill full atau ahli dibidangnya.

Menurut om Bob, orang di kuadran ini mempunyai efektivitas teori dan praktik hingga 90%.

#Kuadran AHLI

Perbedaan antara kuadran TERAMPIL dan kuadran AHLI itu sangat tipis.

Hal yang paling mendasar dalam perbedaannya adalah bahwa pengakuan predikat ini merupakan pengakuan yang diberikan oleh masyarakat, bukan berasal dari klaim diri sendiri.

Orang – orang di kuadran ini menjadi sebuah role model.

Mereka menjadi tempat bertanya serta dituntut mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan.

Akan tetapi adakalanya pertanyaan tersebut ada yang tidak bisa di jawab orang di kuadran ini. Jawabannya bisa ditemukan di kuadran TAHU.

Idealnya adalah dalam perputaran roda proses tersebut akan berlangsung secara terus menerus.

Dari kuadran TAHU menuju ke kuadran BISA kemudian ke kuadran TERAMPIL dan dilanjutkan ke kuadran AHLI. Ketika tidak menemukan jawaban pertanyaan, maka kembali melihat atau harus kembali ke kuadran TAHU.

#Seperti bandul jam

Idealnya seperti bandul jam yang bergerak bolak balik.

Bagi orang yang ada di kuadran TAHU bisa menyeberang ke kuadran BISA, begitu juga mereka tak perlu malu untuk kembali ke kuadran TAHU untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang tidak ditemukan di kuadran BISA.

Nah permasalahan yang sering terjadi adalah…

Banyak yang tidak mengikuti pergerakan itu kemudian meloncat ke kuadran secara acak. Mestinya, dari kuadran TAHU ke BISA kemudian masuk ke kuadran TERAMPIL dan AHLI.

Namun, sering kita lihat banyak yang dari kuadran TAHU ke kuadran TERAMPIL atau AHLI, mereka merasa seperti itu.

Ibarat orang baru yang mengikuti latihan karate, dimana mereka adalah pemula..biasanya pemula banyak bicara..dari pengetahuannya secara teori kemudian ingin segera bertarung dengan menantang orang – orang disekitarnya seolah dia sudah TERAMPIL atau AHLI…bahkan, sebenarnya orang tersebut pun belum masuk ke kuadran BISA

Jika kita berbicara mengenai kemiskinan misalnya.

Salah satu penyebabnya bisa jadi banyaknya sarjana yang kurang kompeten di bidangnya. Mereka lulus namun tidak mampu menciptakan pekerjaan sendiri.

Jika tidak mampu menciptakan pekerjaan untuk mereka sendiri, apalagi untuk orang lain ?

Bisa jadi juga salah kaprah dalam penerapan level kuadran tadi. Misal saja, orang di kuadran TAHU karena keegoisannya langsung melompat ke kuadran TERAMPIL, bahkan ke kuadran AHLI. Mereka akhirnya diberi kesempatan memberikan bimbingan serta penyuluhan bagi orang lain..padahal bisa jadi apa yang mereka berikan bisa menyesatkan orang di kuadran bawah…

Beberapa hal di atas barangkali bermanfaat bagi anda.

Bisa juga diterapkan dalam menilai atau merekrut karyawan atau pegawai, atau analisa kompetensi seseorang.

Semoga bermanfaat ! Ada sanggahan ? Mari berdiskusi tinggalkan komentar anda … anda di kuadran mana ?

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

One thought on “Analisa Kompetensi Seseorang Ala Bob Sadino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *