Alumni IPDN Dan Kisah Bima

oleh
bima

Alumni IPDN diharapkan bisa menjadi agen perubahan dalam pembangunan. Memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Bisa menjadi suri tauladan bagi sesama.

Lulusan atau alumni IPDN pasca menyelesaikan pendidikan di Ksatrian sebagai kawah candradimuka mendapatkan pin bintang Astabrata. Ada makna dan filosofi serta nama – nama dunia pewayangan yang terdapat di Ksatrian IPDN.

Salah satunya yaitu nama kelas sebagai tempat kuliah Praja IPDN, kelas Bima. Makna serta filosofi yang terkandung di dalamnya, diharapkan kita menjiwai sikap kepemimpinan Bima titisan Batara Bayu. Ini merupakan cerita fiksi dalam dunia pewayangan.

Siapakah sebenarnya Bima itu ? Hal apa saja yang bisa kita ambil sebagai sikap keteladanan dari cerita Bima ini ?

Simak kisah Bima berikut ini :

***

Ketika muda, Bima bernama Bratasena, anak Prabu Pandu Dewanata Raja Hastinapura dengan Kunti. Ia anak kedua. Werkudara adalah titisan Batara Bayu ( dewa angin ). Maka wajar kalau berlari membawa suara angin. Nama lain Werkudara antara lain Bratasena, Bimasena, Haryasena, Bayusiwi, Jagal Abilawa, Kusumadilaga, Jayalaga dan Prabanconosiwi. Kediamannya di Ksatrian Jodipati atau Tunggul Pamenang.

Bima mempunyai tiga istri, yaitu Dewi Nagagini, Dewi Arimbi dan Dewi Urangayu. Dengan Dewi Nagagini berputra Raden Antareja. Dengan Dewi Arimbi berputra Raden Gatutkaca. Dengan Dewi Urangayu berputra Raden Antasena.

Bima mempunyai pusaka andalan yaitu Kuku Pancanaka, Gada Rujakpolo dan Lambitamuka. Ajiannya Bandung Bandawasa, ungkal Bener, Blabak pengantol – antol dan Bayu Bajra.

Ketika lahir, Bima berupa bungkus. Bayi Bima masih terbungkus daging. Semua senjata tidak ada yang mempan untuk membelahnya serta mengeluarkan bayi Bima. Akhirnya daging berbentuk bola itu terus menggelinding dan diikuti terus oleh keluarganya, termasuk Batara Kresna.

Suatu saat bayi bungkus itu bertemu dengan Gajah Sena. Bungkus daging itu dibuat mainan oleh Gajah Sena. Semakin mengasikkan sekaligus menjengkelkan karena daging itu tidak pecah dan seperti berani.

Suatu ketika bayi bungkus itu terkena gading Gajah Sena dan pecah.

Keluarlah bayi laki – laki. Bayi itu diinjak – injak oleh Gajah Sena. Ayah dan ibunya sangat khawatir.

Oleh Kresna, mereka dinasehati tidak perlu menghardiknya. Bayi itu tidak mati malah semakin besar dan terus semakin besar dan tumbuh menjadi remaja yang tangguh, gagah perkasa, berbadan tegap dan tinggi besar.

Gajah itu dilawannya, ketika Gajah terkena kuku Bima, Gajah mati seketika. Maka kuku itu menjadi senjata yang bernama Kuku Pancanaka.

Sukma Gajah menajdi satu dengan remaja ini. Setelah bertemu dengan ayah ibunya dan keluarga, ia diberi nama Bratasena karena perlawanannya terhadap Gajah Sena.

Bima tidak bisa berbicara dalam bahasa Jawa krama kepada siapa saja, kecuali dengan Dewa Ruci. Kepada siapapun dia berbicara ngoko. Walau begitu, Bima mempunyai watak ksatria. Bima suka menolong, cinta kasih kepada saudara dan sesama. Bima juga berbhakti kepada orang tua dan saudara tua serta gurunya. Bima teguh pada prinsip, menepati janji pada guru, memberantas angkara murka serta adil.

Watak setia dan berbhakti kepada guru ditunjukkan ketika ia di utus oleh gurunya ( Pendita Durna ) mencari air Perwitasari. Walaupun di tengah hutan dan didalam samudra yang penuh dengan tantangan membawa maut, ia tetap mengerjakannya.

Padahal, sebetulnya Bima sengaja dijerumuskan agar mati. Tetapi karena bhaktinya pada guru, Bima bahkan mendapatkan anugerah dewa.

Ia bertemu dengan Dewa Ruci di tengah Samudra, kepadanya diajarkan bagaimana hidup dan hakikat kehidupan yang membuat Bima pintar dan bijak. Ia merupakan satu – satunya tokoh yang paham tentang sangkan paraning dumadi ( asal muasal kehidupan, bagaimana harus hidup dan kembali setelah hidup ).

Tanda bhakti kepada ibunya, ketika perang Baratayuda ia memenuhi sumpah ibunya Kunti. Untuk dapat keramas darah Dursasana dan kepalanya untuk kesed setelah Dursasana dihancurkan oleh Bima.

Bhaktinya kepada kakak, Bima membunuh Sangkuni, Duryudana dan Dursasana sebagai lambang kejahatan Kurawa. Keadilannya tidak tertandingi, walau anak sendiri akan dihukum dan dihajar habis – habisan jika memang bersalah. Seperti saat Gatutkaca mencuri Pregiwa walaupun ia tahu bahwa ia hanya di fitnah oleh Kurawa. Padahal Gatutkaca dan Pregiwa saling mencintai dan akhirnya menjadi suami istri.

Setelah perang Baratayuda, bersama dengan keempat saudaranya mengembara atau berkelana. Ditengah gurun pasir, Bima menemui ajalnya.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil pelajaran antara lain :

  1. Milikilah watak ksatria, berbudi luhur, jujur, suka menolong, memberantas kejahatan, adil, arif dan bijaksana
  2. Berbhaktilah kepada orang tua, saudara dan guru
  3. Cintailah sesama saudaramu
  4. Darmakanlah dirimu untuk kemakmuran bangsa dan negara

Begitulah kisah Bima dalam dunia pewayangan. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita sebagai alumni IPDN, ketika kita pernah di didik di Ksatrian di bawah kaki Manglayang.

Semoga bermanfaat.

Tentang Penulis: Eike

Gambar Gravatar
Just another person to writing world web!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *